Pekerjaan manual berulang
Rekap laporan, pemeriksaan data, atau proses administratif menyita waktu.
Bantu tim menemukan peluang AI dari pekerjaan nyata, merumuskan problem yang tepat, lalu merancang dan menguji prototype solusi yang relevan untuk organisasi.
Akses ke AI tools tidak otomatis membuat pekerjaan menjadi lebih efektif. Tim membutuhkan proses untuk menemukan friction, memilih use case yang relevan, dan menguji nilai solusinya.
Rekap laporan, pemeriksaan data, atau proses administratif menyita waktu.
Informasi berada di banyak file dan format sehingga sulit diolah dengan konsisten.
Tools digunakan karena tren, bukan karena kebutuhan kerja yang jelas.
Pendekatan Design Thinking menjaga proses tetap berangkat dari kebutuhan pengguna dan konteks kerja, bukan dari fitur tools.
Memahami peran, proses, kebutuhan, dan friction yang dialami tim.
Merumuskan problem statement yang spesifik dan layak diselesaikan.
Mengeksplorasi serta memilih AI use case berdasarkan relevansi dan nilai.
Menyusun blueprint, membangun prototype, lalu mengujinya dengan feedback.
Peserta bekerja pada masalah dari fungsi atau unit mereka sendiri dan membawa pulang hasil yang bisa ditindaklanjuti.
Peluang AI yang terkait langsung dengan masalah pekerjaan.
Rumusan masalah sebagai fondasi pengembangan solusi.
Gambaran alur input, proses, dan output solusi.
Versi awal solusi AI yang dapat dicoba dan dikembangkan.
Materi dan contoh dapat disesuaikan dengan konteks organisasi, tujuan program, serta level peserta.
Format dan ruang lingkup akhir dapat didiskusikan berdasarkan kebutuhan organisasi.
Tidak. Fokus program adalah problem discovery, desain solusi, dan prototyping dengan pendekatan yang sesuai untuk profesional non-IT.
AI use case, problem statement, solution blueprint, dan prototype awal.
Ya. Program in-house dapat menggunakan konteks fungsi dan tantangan kerja organisasi.
Ceritakan tantangan dan target yang ingin dicapai. Kita bisa mendiskusikan fokus program, format, dan penyesuaian yang relevan.